AbstrakUsahatani hidroponik merupakan inovasi pertanian modern yang efisien dan relevan diterapkan di wilayah perkotaan seperti Bekasi. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga, biaya produksi tinggi, dan keterbatasan teknis petani menghambat keberlanjutan usaha. Tujuan dari penelitian ni adalah untuk menganalisis pola kemitraan antara CV Teras Budidaya Inovasi dan petani mitra serta mengevaluasi pendapatan petani dalam kemitraan tersebut. Menggunakan pendekatan mix methods, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi dari mitra dan sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kemitraan yang diterapkan termasuk dalam skema Kerja Sama Operasional Agribisnis (KOA), di mana perusahaan menyediakan input, pendampingan teknis, dan akses pasar, sedangkan petani melaksanakan proses budidaya. Pola ini didasarkan pada prinsip saling percaya dan pembagian peran yang adil. Analisis pendapatan menunjukkan seluruh petani mitra memperoleh keuntungan bersih, seperti Maura Farm yang meraih Rp12.040.612 per satu bulan produksi. Implikasi praktis dari temuan ini menunjukkan bahwa model kemitraan KOA dapat meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani. Secara teoritis, hasil ini memperkuat konsep agribisnis inklusif, di mana kolaborasi antara petani dan perusahaan menjadi faktor penting dalam mendukung keberlanjutan usaha pertanian perkotaan.Kata kunci: Usahatani Hidroponik, Kemitraan Agribisnis, Pendapatan Petani, Pola KOA. Abstract Hydroponic vegetable farming is a modern and efficient agricultural innovation, well-suited for urban areas such as Bekasi City. However, challenges such as price fluctuations, high production costs, and limited technical capacity among farmers hinder the sustainability of this business. This study aims to analyze the partnership model between CV Teras Budidaya Inovasi and its partner farmers, as well as assess farmers' income levels within the partnership. A mixed-methods approach was employed, combining primary data collected through observation and interviews with secondary data from company documentation, official statistics, and supporting literature. The informants included four partner farmers and one company representative, selected purposively. The findings indicate that the implemented partnership follows the Agribusiness Operational Cooperation (KOA) model, where the company provides production inputs, technical guidance, and marketing support, while farmers focus on cultivation. This model is built on mutual trust and a fair division of roles. Income analysis shows that all partner farmers gained net profits, such as Maura Farm, which earned IDR 12,040,612 in one production cycle. The practical contribution of this study highlights that the KOA model enhances farming efficiency and income. Theoretically, it reinforces the concept of inclusive agribusiness, where collaboration is key to sustaining urban farming initiatives.Keywords: Hydroponic Farming, Agribusiness Partnership, Farmer Income, KOA Model.
Copyrights © 2025