Pengelola wisata pada desa bonjeruk terdiri dari Pengelola wisata tempat dan bangunan berejarah, Pengelola Wisata Kuliner, Pengelolan Wisata Alam, Pengelola Wisata Edukasi. Hasil observasi dan analisis menemukan bahwa jumlah pemasukkan pengelola wisata spot wisata sejarah dengan pemasukkan kurang dari satu juta Lima Ratus Ribu Rupiah (Rp.1.500.000,-) dalam satu tahun. Kondisi ini mengharuskan mengerjakan aktivitas ekonomi selain bidang pariwisata yang berdampak pada berkurangnya jumlah pemandu wisata tempat dan sejarah. Kurangnya Pemandu lokal berdampak pada menurunnya kepuasan wisatawan asing. Untuk meningkatkan pendapatan pengelola spot wisata Sejarah maka dilakukan pembentukan unit bisnis sablon digital. Unit bisnis sablon digital ini memiliki usaha pada produksi kaos dengan gambar bangunan, tempat dam benda bersejarah dan melayanani pemesanan sablon digital. Pelatihan Sablon Digital kepada 10 (sepuluh) Orang. Pelatihan ini mulai dari Teknik pengambilan gambar, pengolahan gambar, percetakan gambar ke kertas DTF, dan Proses pemindahan gambar DTF ke Kaos. Pengetahuan pengelolaan bisnis diberikan dengan melakukan pelatihan Business Model Canvas (BMC). Dilakukan pemasangan dan pelatihan perawatan Alat pemandu wisata otomatis. Alat pemandu wisata otomatis sejumlah 3 unit yang memanfaatkan teknologi sensor, Mikrokontroller serta energi terbarukan solar panel. Hasil pengabdian ini berupa satu Unit bisnis sablon digital sebagai pemasukkan tambahkan pengelola spot wisata. Pemasukan dari bisnis ini yaitu 15% dari harga penjualan produk. Produk dijual secara langsung pada toko dan juga bekerjasama dengan spot wisata kuliner da edukasi sebagai lokasi penjualan. Alat pemandu wisata otomatis dapat menggantikan peran pemadu wisata pada lokasi tempat dan bangunan bersejarah sehingga meningkatkan kepuasan pengunjung wisata asing.
Copyrights © 2025