Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fenomena campur kode bahasa daerah Betew terhadap penggunaan bahasa Indonesia di sekolah berdasarkan kajian sosiolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian diperoleh dari siswa kelas VII SMP Negeri 20 Raja Ampat, yang berjumlah 22 orang. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan perekaman. Hasil penelitian dianalisis dengan teknik analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa sering melakukan campur kode saat proses pembelajaran. Berdasarkan data yang terkumpul, campur kode yang paling dominan adalah penggantian kata-kata dalam bahasa Indonesia dengan kosakata bahasa Betew. Hal ini terjadi karena siswa merasa bahwa kata dalam bahasa Betew memiliki makna yang sudah dipahami oleh guru, sehingga penggunaan kata tersebut dianggap lebih mudah dan efektif. Selain itu, pengaruh bahasa Betew juga terlihat pada penggunaan frasa (kelompok kata), meskipun penggunaannya tidak sebanyak kosakata. Unsur bahasa Betew lainnya yang digunakan adalah klausa, meskipun frekuensinya lebih jarang dibandingkan dengan kosakata dan frasa. Secara keseluruhan, campur kode bahasa Betew terjadi karena sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari siswa. Siswa juga sering kali mengalami kesulitan dalam menemukan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, yang membuat mereka memilih untuk menggunakan bahasa Betew sebagai alternatif. Implikasi hasil penelitian ini menjadi referensi bagi guru Bahasa Indonesia untuk mengarahkan siswa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam interaksi belajar-mengajar.
Copyrights © 2025