Makalah ini membahas hubungan antara pemikiran teologi rasional Ibnu Sina dan Muhammad Abduh, dua tokoh besardalam tradisi intelektual Islam yang hidup di era dan konteks yang berbeda. Ibnu Sina (980–1037), seorang filsuf danilmuwan Muslim dari era klasik, mengembangkan pendekatan teologi berbasis filsafat dan rasionalitas yang dikenaldengan istilah hikmah. Sementara itu, Muhammad Abduh (1849–1905), seorang pembaharu Islam modern dari Mesir,menekankan pentingnya akal dalam memahami ajaran Islam sebagai respons terhadap kemunduran umat dan tantanganmodernitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis titik temu dan perbedaan mendasar antara pandangankeduanya mengenai peran akal dalam memahami Tuhan, wahyu, dan alam semesta. Metode yang digunakan adalahstudi pustaka (library research) dengan pendekatan filosofis-kritis terhadap karya-karya utama kedua tokoh, sertainterpretasi terhadap konteks historis pemikiran mereka. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun terdapatperbedaan dalam metodologi dan latar belakang, baik Ibnu Sina maupun Muhammad Abduh sama-sama menjadikanakal sebagai sarana utama untuk memahami kebenaran teologis. Ibnu Sina meletakkan dasar-dasar metafisika Tuhanmelalui pendekatan filsafat Yunani dan konsep wajib al-wujud, sedangkan Abduh lebih menekankan pada pemurnianakidah Islam dari unsur takhayul dan pembelaan terhadap rasionalitas wahyu. Dengan demikian, pemikiran keduanyamenunjukkan kesinambungan dalam tradisi rasional Islam yang menempatkan akal sebagai mitra wahyu. Kajian inidiharapkan dapat memperkaya wacana teologi Islam kontemporer yang rasional dan kontekstual.
Copyrights © 2025