Perselingkuhan orang tua merupakan bentuk pelanggaran kepercayaan yang meninggalkan dampak emosional dan psikologis mendalam bagi anak yang menyaksikannya. Penelitian ini bertujuan memahami makna pengalaman anak dalam menghadapi perselingkuhan orang tua. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan untuk menggali pengalaman subjektif empat partisipan perempuan berusia 18–21 tahun yang pernah menyaksikan perselingkuhan salah satu atau kedua orang tuanya. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil menunjukkan bahwa anak menyadari perselingkuhan melalui proses bertahap atau penemuan langsung yang memicu reaksi emosional seperti marah, kecewa, dan sedih. Setelah peristiwa tersebut, hubungan dengan orang tua pelaku menjadi berjarak dan dingin, sementara anak cenderung menarik diri dari konflik keluarga serta mencari dukungan emosional di luar rumah. Pengalaman ini menandai hilangnya kelekatan dan kepercayaan terhadap figur orang tua, sekaligus membentuk cara anak menafsirkan relasi dan rasa aman di masa depan.
Copyrights © 2026