Masa remaja adalah periode krusial dengan gejolak emosi dan tekanan jiwa, sering disebut sturm und drang atau pencarian jati diri. Ketidakstabilan emosi remaja dapat memicu perilaku agresif, yaitu tindakan menyakiti orang lain. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terbukti dari peningkatan prevalensi kekerasan pada anak dan remaja (SNPHAR 2024), serta observasi dan wawancara di SMP LKIA Pontianak yang menunjukkan tingginya kasus perilaku agresif siswa, seperti memukul, menendang, mengumpat, dan kurangnya rasa hormat terhadap guru.Tanggapan orang tua yang kurang kooperatif saat dipanggil pihak sekolah mengenai perilaku anaknya akan memperparah kondisi ini. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Anger Management Training dalam menurunkan perilaku agresif pada siswa SMP LKIA Pontianak. Metode penelitian desain one group pretest-posttest, membandingkan hasil sebelum dan sesudah intervensi. Delapan siswa dipilih melalui Purposive Sampling sebagai partisipan. Analisis data Uji-T berpasangan (Paired Sample T-test) menunjukkan nilai signifikansi 0,000, mengindikasikan pengaruh signifikan intervensi. Persentase perilaku agresif siswa menurun 16%, dari 58% (pre-test) menjadi 42% (post-test). Hasil penelitian menunjukkan sebelum intervensi, peserta banyak di kategori sedang (62,5%) dan tinggi (37,5%), dengan indikator menonjol seperti mengumpat dan memukul. Setelah intervensi, 37,5% peserta berada di kategori rendah dan 62,5% di kategori sedang.
Copyrights © 2025