Materi listrik statis merupakan konsep yang bersifat abstrak sehingga siswa sering mengalami kesulitan dalam memahami interaksi muatan, medan, serta gaya elektrostatik yang tidak dapat diamati secara langsung. Kondisi ini menyebabkan aktivitas ilmiah seperti mengamati, memprediksi, menafsirkan, dan menarik kesimpulan kurang berkembang, sehingga diperlukan media pembelajaran yang mampu mendukung penguatan Keterampilan Proses Sains (KPS). Perbedaan ciri antara Simulasi PhET, yang memberikan pengalaman interaktif eksploratif, dan video percobaan, yang menghadirkan fenomena empiris secara nyata, menjadi alasan pemilihan topik penelitian ini. Penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group pada dua kelas XII SMA, masing-masing diberi perlakuan berbeda. Instrumen berupa 30 soal pilihan ganda berindikator KPS diberikan pada pretest dan posttest kemudian dianalisis menggunakan daya serap serta N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua metode menghasilkan daya serap sangat baik pada seluruh indikator, namun peningkatan berdasarkan N-Gain berada pada kategori sedang. Simulasi PhET memperoleh rata-rata 0,525, sedangkan video percobaan 0,453. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua metode sedikit meningkatkan KPS, namun Simulasi PhET memberikan peningkatan yang sedikit lebih optimal untuk mendukung keterampilan proses sains siswa. Hasil ini juga menunjukkan perlunya penelitian lanjutan dengan durasi pembelajaran lebih panjang serta integrasi kedua media untuk memperoleh peningkatan KPS yang lebih signifikan di masa depan.
Copyrights © 2025