Di era digital, di saat akses terhadap pengetahuan terbuka luas, banyak yang mengira masyarakat akan lebih logis, kritis, dan objektif, sehingga glorifikasi yang mengarah pada pemberhalaan terhadap figur akan berkurang. Faktanya, glorifikasi justru menemukan tempat yang lebih masif dan luas di era digital. Meskipun banyak laporan media dan opini publik tentang glorifikasi terhadap tokoh politik, studi akademik yang menggunakan pendekatan sistematis untuk memahami fenomena ini sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi glorifikasi tokoh politik di media sosial menggunakan metode sentiment analysis. Ada 8.000 tweets yang dianalisis. Hasilnya, mayoritas tweets memuat sentimen positif, yaitu sebanyak 4.200 tweets atau 52,5% dari keseluruhan data, mengindikasikan adanya glorifikasi terhadap tokoh politik. Glorifikasi yang ditemukan, yaitu Overgeneralization (22% tweets), Hero Worship (15% tweets), dan Dismissive of Criticism (12% tweets). Pola glorifikasi yang banyak muncul sering kali tidak didasarkan pada fakta objektif, yang menunjukkan kecenderungan pemberhalaan, di mana tokoh politik diposisikan sebagai figur yang ideal, sempurna, dan berada di luar kritik. Menjadi penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya glorifikasi bagi kohesi sosial, kualitas demokrasi, dan akuntabilitas publik
Copyrights © 2025