Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat self-esteem dan perilaku agresif pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang terlibat dalam konflik sosial antar geng di sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Subjek penelitian berjumlah 60 siswa yang teridentifikasi memiliki keterlibatan dalam interaksi sosial berbasis kelompok atau geng. Data dikumpulkan menggunakan angket berskala Likert lima tingkat yang mengukur self-esteem dan perilaku agresif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat self-esteem siswa berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 3,7 (setara 55,5 pada skala 15–75). Perilaku agresif juga berada pada kategori sedang dengan nilai rata-rata 2,5 (setara 45 pada skala Temuan ini mengindikasikan bahwa siswa memiliki persepsi diri yang cukup positif, namun belum sepenuhnya stabil, serta masih menunjukkan kecenderungan perilaku agresif dalam taraf menengah, terutama dalam bentuk agresi verbal pada situasi konflik antar geng.Secara umum, konflik sosial antar geng di lingkungan sekolah lebih dipengaruhi oleh kebutuhan pengakuan sosial dan dinamika identitas kelompok sebaya dibandingkan dorongan agresivitas murni. Temuan ini menegaskan pentingnya peran layanan bimbingan dan konseling dalam memperkuat stabilitas self-esteem, regulasi emosi, dan keterampilan penyelesaian konflik sebagai upaya pencegahan konflik sosial di sekolah
Copyrights © 2026