Gangguan Spektrum Autisme (GSA) merupakan kondisi perkembangan neurobiologis yang berdampak signifikan terhadap kemampuan komunikasi, interaksi sosial, serta regulasi perilaku individu sejak usia dini. Dalam konteks pendidikan khusus, guru memiliki peran strategis dalam mendampingi anak dengan spektrum autisme, terutama ketika dihadapkan pada berbagai tantangan perilaku di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman guru dalam menangani tantangan perilaku anak dengan spektrum autisme di Sekolah Khusus (SKH) Pandita Kota Serang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap seorang guru pendamping anak autisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman guru terhadap karakteristik dan kebutuhan anak autisme terbentuk melalui pengalaman langsung, empati, serta proses belajar berkelanjutan. Tantangan perilaku yang dihadapi meliputi tantrum, agresivitas fisik, dan hambatan komunikasi. Strategi penanganan yang diterapkan mencakup penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, penerapan rutinitas yang konsisten, pemanfaatan media visual, serta kolaborasi dengan orang tua dan terapis. Temuan ini menegaskan bahwa pengalaman praktik dan dukungan lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk kompetensi guru, meskipun tanpa latar belakang pendidikan luar biasa.
Copyrights © 2025