Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas filter konvensional dan filter dari limbah organik dalam meningkatkan kualitas air, dilihat dari perubahan warna, bau, dan kekeruhan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, yang fokus pada pengamatan langsung tanpa analisis statistik. Data dikumpulkan melalui observasi visual dan sensorik, termasuk warna air, bau, kekeruhan, dan waktu filtrasi. Dua jenis filter dibuat dengan desain serupa yaitu filter konvensional terdiri dari kain berpori, kapas, arang aktif, pasir, dan kerikil, sedangkan filter organik terdiri dari kain berpori, kapas, sekam padi, serbuk gergaji, dan kerikil. Air keruh difiltrasi melalui masing-masing filter sebanyak tiga kali untuk akurasi, dan perubahan dicatat dalam tabel. Hasil menunjukkan filter konvensional lebih efektif dalam menghasilkan air jernih, tidak berbau, dan waktu filtrasi sekitar 2 menit per 100 ml. Sementara itu, filter organik hanya mampu meningkatkan kualitas air secara terbatas, dengan warna kekuningan dan bau tersisa, serta waktu filtrasi yang lebih lama. Jadi, filter konvensional lebih unggul dalam penyaringan, sedangkan filter organik memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk menjadi alternatif yang efisien dan ramah lingkungan.
Copyrights © 2025