Penelitian ini mengkaji dinamika klientelisme politik dalam relasi Punggawa–Sawi di Pelabuhan Tuju-tuju, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis: (1) faktor-faktor yang memungkinkan para punggawa membangun dan mendominasi jaringan politik lokal, dan (2) Bagaimana Reproduksi Kekuasaan Politik para punggawa dalam kontestasi politik lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus, melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi selama enam bulan kerja lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan ekonomi, pola perekrutan berbasis kekerabatan, serta modal simbolik berperan penting dalam mempertahankan relasi kerja yang tidak seimbang. Selain itu, Punggawa memanfaatkan sumber daya ekonomi, jaringan sosial, dan gengsi simbolik untuk mengerahkan dukungan politik. Temuan ini menunjukkan bagaimana struktur ekonomi kemaritiman berkelindan dengan praktik politik lokal, sehingga memperkuat pola patronase tradisional dalam demokrasi kontemporer.Kata kunci: klientelisme, punggawa-sawi, kekerabatan, modal simbolik, politik localAbstractThis study examines the dynamics of political clientelism within the Punggawa–Sawi relationship at Tuju-tuju Port, Kajuara District, Bone Regency. The research aims to analyze (1) the factors that enable local Punggawa to build and dominate political networks and (2) How the Political Power of the officials is reproduced in local political contests. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation during six months of fieldwork. The results reveal that economic dependence, kinship-based recruitment, and symbolic capital play significant roles in maintaining the asymmetrical Punggawa–Sawi relationship. Furthermore, Punggawa actors utilize their economic resources, social networks, and symbolic prestige to mobilize support during elections. These findings demonstrate how maritime economic structures intersect with political practices, reinforcing traditional patronage patterns in contemporary local democracy.Keywords: clientelism, Punggawa–Sawi, kinship, symbolic capital, local politics
Copyrights © 2025