Tradisi mitoni merupakan ritual tujuh bulanan kehamilan pertama yang hidup dalam budaya Jawa sebagai bentuk doa, syukur, dan permohonan keselamatan bagi ibu dan janin. Di Kabupaten Wonosobo, praktik mitoni memperlihatkan perpaduan antara nilai adat Jawa, ajaran Islam, serta konteks sosial pedesaan pegunungan yang masih kuat memegang tradisi kolektif dan gotong royong.Artikel ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pelaksanaan mitoni di Wonosobo, menelaah makna simbolik sesaji dan rangkaian prosesi, serta menganalisis transformasi nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual yang menyertainya pada periode 2020– 2025. Penulisan menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah jurnal-jurnal mutakhir mengenai mitoni dan slametan Jawa, kemudian dikontekstualisasikan dengan kondisi masyarakat Wonosobo.Hasil kajian menunjukkan bahwa mitoni berfungsi sebagai media penguatan kohesi sosial, sarana transmisi nilai religius dan moral keluarga, serta wujud akulturasi Islam–Jawa yang tampak pada bacaan doa, jenis sesaji, dan struktur kepemimpinan ritual. Di tengah modernisasi, sejumlah unsur simbolik mengalami penyederhanaan, tetapi inti fungsi sosial–spiritual mitoni tetap terpelihara, terutama di kalangan masyarakat yang masih menempatkan slametan sebagai inti kehidupan religius Jawa. Temuan ini menegaskan bahwa mitoni di Wonosobo bukan sekadar upacara daur hidup, tetapi juga ruang negosiasi identitas budaya dan religius masyarakat Jawa pegunungan.
Copyrights © 2026