Fondasi utama dalam membentuk kualitas SDM dapat dilakukan melalui penguatan kemampuan literasi dasar (membaca dan menulis). Namun, kondisi anak-anak marginal di Aceh menunjukkan realitas yang memprihatinkan. Faktor ekonomi, pola pikir orang tua yang kurang mendukung pendidikan, serta keterbatasan waktu belajar karena membantu orang tua mencari nafkah menjadi hambatan utama dan membuat kehilangan hak belajar secara optimal, sehingga memperlebar kesenjangan literasi. Anak-anak binaan di Lapas maupun korban konflik Aceh juga menghadapi masalah serupa akibat minimnya layanan pendidikan. Kondisi ini diperparah dengan tingginya angka putus sekolah di wilayah pesisir dan pedesaan. Rendahnya literasi ini berdampak pada keterbatasan kemampuan komunikasi, baik verbal maupun nonverbal. Oleh karena itu, diperlukan strategi inovatif dan menyenangkan untuk menumbuhkan minat sekaligus meningkatkan kemampuan literasi anak-anak marginal. Salah satu alternatif solusi adalah melalui Kartu TAMITA (Tantangan Merangkai Kata), sebuah permainan edukatif yang berfokus pada penguasaan unsur kebahasaan dasar seperti SPOK (Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan) berbasis kearifan lokal Aceh. Kartu TAMITA tidak hanya sekadar media permainan, tetapi juga sarana pembelajaran kreatif yang mampu mendorong anak-anak mengasah kecakapan membaca, menulis, serta berpikir kritis. Dengan meningkatnya keterampilan literasi dasar kebahasaan secara keseluruhan anak memiliki peluang lebih besar untuk memperbaiki taraf hidupnya melalui akses pendidikan yang lebih bermakna.
Copyrights © 2025