Artikel ini mengkaji relevansi Pragmatisme dan Liberalisme sebagai landasan filosofis dalam pengembangan sistem pendidikan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini bertujuan untuk mneganalisis bagaimana prinsip-prinsip utama kedua aliran filsafat pendidikan tersebut dapat berkontribusi terhadap perancangan kurikulum dan praktik pembelajaran yang responsive terhadap tantangan pendidikan masa kini. Penelitian ini menggunakan kajian liraterur dengan pendekatan deskriptif filosofis, dengan menganalisis teks-teks filosofis klasik dan kontemporer serta dokumen kebijakan pendidikan nasioanl yang berkaitan dengan Merdeka Belajar dan Kurikulum Merdeka. Hasil kajian menunjukkan bahwa pragmatism, yang menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, pemecahan masalah, dan praktik kontekstual, sejalan dengan pendekatan berbasis proyek dan pengalaman yang diusung dalam Kurikulum Merdeka. Sementara itu, liberalisme yang menekankan kebebasan individu, otonomi intelektual, dan pengembangan moral mendukung penerapan perbedaan belajar, otonomi guru, dan kebebasan akademik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi nilai-nilai pragmatis dan liberal memberikan kerangka filosofis yang koheren untuk membangun sistem pendidikan yang lebih demokratis, humanis, dan adaptif. Temuan ini mengimplikasikan bahwa integrasi tersebut dapat menjadi landasan teoritis dan praktis dalam memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka.
Copyrights © 2025