The recycling movement initiated by Juni Wati Sri Rizki through the Gerakan Mulia community demonstrates that waste management is not merely an ecological and technical effort, but can be understood as an ecological act of worship rooted in Islamic theological values. This study aims to analyze how recycling practices are constructed as ecological worship within the Islamic theo–anthropo–ecocentric perspective and examined through the framework of development communication. This research adopts a constructivist paradigm with a phenomenological approach, using in-depth interviews, participatory observation, and documentation as data collection techniques. The findings reveal that the movement successfully transforms environmental awareness from technical participation into a long-term religious commitment grounded in the principles of tauhid, trust (amanah), balance (mizan), and anti-waste ethics. Religion-based development communication proves effective in increasing participation, strengthening social legitimacy, and building ecological solidarity within the Muslim community. However, sustainability challenges remain, particularly related to infrastructure, technical literacy, and policy support. This study concludes that the Islamic theo–anthropo–ecocentric framework provides a strong conceptual and practical foundation for community-based environmental movements as ecological worship with social, spiritual, and ecological impacts. Keywords: Recycling, Ecological worship, Development communication, Theo–anthropo–ecocentric, Islamic ecotheology. Abstrak Gerakan daur ulang yang diinisiasi oleh Juni Wati Sri Rizki melalui komunitas Gerakan Mulia menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan teknis-ekologis, melainkan dapat dimaknai sebagai ibadah ekologis yang berlandaskan nilai teologis Islam. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana praktik daur ulang dikonstruksikan sebagai bentuk ibadah ekologis dalam perspektif teo–antro–ekosentris Islam sekaligus dianalisis dalam kerangka komunikasi pembangunan. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan fenomenologi melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan ini berhasil mentransformasikan kesadaran masyarakat dari sekadar partisipasi teknis menjadi komitmen religius terhadap lingkungan, dengan landasan nilai tauhid, amanah, mizan, dan etika anti pemborosan. Komunikasi pembangunan berbasis nilai keagamaan terbukti efektif meningkatkan partisipasi, memperkuat legitimasi sosial, serta membangun solidaritas ekologis berbasis keimanan. Namun demikian, keberlanjutan gerakan menghadapi tantangan pada aspek infrastruktur, literasi teknis, dan dukungan kebijakan. Penelitian ini menegaskan bahwa model teo–antro–ekosentris Islam memberikan kerangka konseptual dan praktis yang kuat dalam mendorong gerakan lingkungan berbasis komunitas sebagai ibadah ekologis yang berdampak sosial, spiritual, dan ekologis. Kata kunci: Daur ulang, Ibadah ekologis, Komunikasi pembangunan, Teo-antro-ekosentris, Ekoteologi Islam.
Copyrights © 2025