Penelitian ini mengkaji integrasi etika dan politik dalam tafsir Surat Al-Maidah ayat 57 dan Surat At-Taubah ayat 71 yang memuat pedoman moral dan sosial penting bagi umat Islam. QS Al-Maidah 57 menegaskan larangan bagi orang beriman menjadikan orang yang menghina atau mempermainkan agama sebagai teman dekat atau pemimpin, sebagai bentuk menjaga identitas keimanan dan kemandirian politik. Ayat ini mengingatkan agar umat tidak berlindung pada musuh Islam yang lemah imannya dan merendahkan syariat, sehingga etika menjadi dasar kuat dalam politik Islam. Sedangkan QS At-Taubah 71 menekankan solidaritas antar mukmin, saling tolong-menolong dalam kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar, penegakan salat, penunaian zakat, dan ketaatan pada Allah serta Rasul, sebagai fondasi kehidupan sosial dan politik yang berkeadilan dan beradab. Tafsir kedua ayat ini menunjukkan bahwa integrasi antara moral individu dan sosial dengan pengelolaan kekuasaan menjadi syarat utama terciptanya kepemimpinan yang adil dan masyarakat yang harmonis. Dalam konteks kontemporer, tafsir ini relevan sebagai pedoman untuk memilih pemimpin yang berintegritas dengan menjunjung tinggi nilai moral Islam dan menjaga keutuhan umat dari pengaruh budaya asing yang merusak. Penelitian ini juga menegaskan perlunya kesadaran kritis umat dalam menjalin hubungan sosial-politik serta internasional agar tidak merugikan agama dan bangsa. Dengan demikian, integrasi etika dan politik dalam kajian tafsir Al-Maidah 57 dan At-Taubah 71 menjadi landasan penting bagi pengembangan politik Islam yang bermartabat dan berkeadilan sosial di era globalisasi.
Copyrights © 2026