Artikel ini mengkaji konsep sistem moneter konvensional karena bertumpu pada uang fiat dan mekanisme bunga. Dalam sistem ini, bank sentral dapat mencetak uang tanpa dukungan aset riil, sehingga meningkatkan risiko inflasi struktural. Selain itu, keberadaan bunga dianggap menyebabkan konsentrasi kekayaan pada pemilik modal finansial dan mendorong praktik spekulatif di sektor keuangan. Sedangkan sistem moneter dalam Islam menekankan pentingnya standar emas–perak (dinar dan dirham), pelarangan riba, dan keterkaitan erat antara sektor moneter dan sektor riil. Artikel ini juga membahas kritik terhadap sistem moneter konvensional berbasis uang fiat dan bunga, serta membandingkan prinsip-prinsip dasar ekonomi moneter Islam dan konvensional. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah studi pustaka terhadap karya-karya primer dan sekunder ekonomi Islam. Analisis dilakukan dengan cara mengkaji konsep, prinsip, serta instrumen sistem moneter Islam, kemudian membandingkannya dengan sistem moneter konvensional. Pendekatan deskriptif-analitis digunakan untuk menarik kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem moneter Islam dipandang lebih stabil dan adil karena berbasis aset riil serta tidak mengenal bunga. Sebaliknya, sistem moneter konvensional dinilai rentan terhadap krisis, inflasi struktural, dan konsentrasi kekayaan akibat mekanisme bunga dan penciptaan uang berbasis utang.
Copyrights © 2026