Kurkumin, senyawa polifenolik utama dari Curcuma longa, telah banyak diteliti dalam satu dekade terakhir karena aktivitas biologisnya yang meliputi antiinflamasi, antioksidan, imunomodulator, serta modulasi jalur endokrin yang berperan dalam regenerasi jaringan. Bukti pra-klinis menunjukkan bahwa kurkumin menekan jalur proinflamasi seperti NF-κB dan mengaktifkan sistem antioksidan berbasis Nrf2, sehingga relevan untuk gangguan jaringan yang terkait stres oksidatif (Kunnumakkara et al., 2023; Zamanian et al., 2024). Dalam konteks reproduksi, kurkumin dilaporkan memengaruhi angiogenesis, apoptosis, dan proliferasi melalui modulasi jalur Wnt/β-catenin dan peningkatan marker proliferasi endometrium (Rezk, 2024; Song et al., 2024). Meskipun demikian, hasil antar studi menunjukkan variasi metodologis, sehingga diperlukan sintesis bukti yang lebih terintegrasi. Penelitian ini melakukan meta-analisis terhadap studi eksperimental in vivo (2023–2025) yang mengevaluasi pengaruh kurkumin pada morfologi uterus dan biomarker proliferasi tikus betina. Analisis menunjukkan bahwa kurkumin secara signifikan meningkatkan ketebalan endometrium (SMD 0,82; 95% CI 0,62–1,02) dan ekspresi Ki-67 (SMD 0,83; 95% CI 0,65–1,00), dengan heterogenitas yang minimal. Sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa kurkumin meningkatkan proliferasi endometrium, ditunjukkan oleh peningkatan ketebalan jaringan dan ekspresi Ki-67, efek ini dipicu oleh modulasi jalur Nrf2, NF-κB, dan Wnt/β-catenin. Kurkumin berpotensi sebagai agen pendukung kesehatan endometrium, tetapi diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan dosis dan aplikasinya
Copyrights © 2025