Ontologi dalam bahasa Yunani yang terdiri dari kata on/ontos (ada atau keberadaan) dan logos/logic (ilmu atau kajian). Dengan demikian, ontologi dapat dipahami sebagai ilmu yang mempelajari tentang keberadaan atau hakikat “ada”. Berbagai pandangan para ahli dan aliran filsafat seperti monisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme menunjukkan keragaman perspektif dalam memahami realitas. Selain sebagai refleksi teoritis, ontologi juga berperan praktis, yakni membantu mengintegrasikan pengetahuan, memetakan batas-batas ilmu, dan memberikan arah perkembangan keilmuan. Dalam isu pendidikan, aspek ontologi menegaskan pentingnya memandang peserta didik sebagai subjek eksistensial, bukan sekadar objek transfer ilmu. Hal ini tercermin dalam gagasan Kurikulum Merdeka dan Pendekatan Deep Learning yang berfokus pada pemahaman bermakna, pemikiran kritis, dan pengembangan potensi manusia seutuhnya. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan menambah relevansi kajian ontologis, sebab teknologi harus ditempatkan sebagai sarana untuk memperkuat dimensi kemanusiaan, bukan menggantikannya. Dengan demikian, ontologi tidak hanya menjadi pijakan teoritis dalam filsafat ilmu, tetapi juga berfungsi sebagai fondasi filosofis dalam merumuskan arah pendidikan yang memanusiakan manusia di era global dan digital.
Copyrights © 2025