Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan publik di Indonesia yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak usia sekolah serta mendukung keberlanjutan pendidikan. Namun, di era digital, program ini menghadapi tantangan terkait legitimasi akibat maraknya disinformasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis bentuk disinformasi, persepsi masyarakat, dan dampaknya terhadap legitimasi kebijakan MBG. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disinformasi muncul dalam bentuk narasi politisasi program, isu kualitas makanan, dan persepsi negatif terkait anggaran, yang memengaruhi sikap masyarakat; sebagian mendukung karena manfaat langsung, sementara sebagian lain bersikap skeptis terhadap niat pemerintah. Rendahnya literasi digital dan komunikasi publik yang bersifat top-down memperkuat penyebaran informasi tidak akurat sehingga mengurangi partisipasi dan kepercayaan masyarakat. Legitimasi kebijakan publik dalam konteks ini tidak hanya ditentukan oleh efektivitas program, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah membangun interaksi sosial dan partisipasi masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan legitimasi MBG memerlukan strategi komunikasi yang transparan, edukasi literasi digital, pelibatan aktif masyarakat, serta sistem klarifikasi cepat terhadap informasi palsu. Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembuat kebijakan untuk merancang program publik yang lebih efektif dan mampu mempertahankan legitimasi di tengah tantangan disinformasi.
Copyrights © 2025