Kabupaten Mimika, yang dijuluki sebagai "Kota Dolar" karena aktivitas pertambangan skala besar, menunjukkan paradoks antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan tantangan ketimpangan pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Tingkat Harga Umum dan Upah Minimum Kabupaten (UMK) terhadap Ketimpangan Pendapatan di Kabupaten Mimika, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui Pertumbuhan Ekonomi sebagai variabel mediasi. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis jalur (path analysis), penelitian ini mengevaluasi data sekunder periode tertentu untuk melihat frekuensi dan menggunakan data primer dari kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara langsung, UMK memiliki pengaruh signifikan terhadap ketimpangan, sementara Tingkat Harga Umum cenderung stabil. Secara tidak langsung, ditemukan bahwa Tingkat Harga Umum tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Ketimpangan Pendapatan melalui Pertumbuhan Ekonomi (P-value 0,089 > 0,05). Sebaliknya, UMK terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Ketimpangan Pendapatan melalui mediasi Pertumbuhan Ekonomi (P-value 0,019 < 0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa jalur pertumbuhan ekonomi di "Kota Dolar" belum mampu menjadi penetral ketimpangan, melainkan justru memperlebar jurang pendapatan saat UMK naik. Pemerintah daerah perlu merancang strategi pertumbuhan inklusif untuk mengatasi transmisi negatif tersebut.
Copyrights © 2026