Penelitian ini menggali makna semiotik makanan dalam tradisi slametan kematian di Jawa Tengah, Indonesia. Slametan 40 hari setelah meninggal merupakan momen yang kaya makna dan spiritualitas dalam budaya Jawa, mencerminkan pemahaman mendalam terhadap proses peralihan roh dan kebutuhan spiritual. Studi ini bertujuan untuk memahami hubungan antara makanan, budaya, dan identitas dalam konteks tradisi slametan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika dari Charles Sanders Pierce. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan dalam slametan tidak hanya memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga membawa nilai-nilai sosial, simbolik, dan historis yang memperkaya tradisi masyarakat Jawa. Makanan di dalam slametan menjadi media untuk memperkuat ikatan antar-anggota keluarga dan masyarakat, sambil mencerminkan keyakinan spiritual dalam peralihan kehidupan setelah kematian.Penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana masyarakat Jawa memberikan makna dan simbol terhadap jenis-jenis makanan dalam tradisi slametan. Pemahaman ini dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian warisan budaya dan kearifan lokal, serta memberikan pemahaman yang lebih baik tentang identitas kolektif, ritual, dan interaksi sosial dalam praktek makanan di masyarakat tersebut.
Copyrights © 2025