Fenomena pelabelan derogatif terhadap perempuan di media sosial Indonesia, seperti istilah “kaum rahim anget” dan “the nuruls”, menunjukkan bagaimana stereotip gender bekerja sebagai mekanisme reproduksi seksisme dalam ruang digital. Berawal dari respons terhadap perempuan yang dianggap mengseksualisasi figur publik laki-laki, label tersebut mengalami perluasan makna hingga mencakup atribut religius, preferensi budaya populer seperti K-Pop, serta pola konsumsi tertentu. Perluasan tersebut menyebabkan generalisasi berlebihan dan sterotip terhadap perempuan dengan ciri-ciri tersebut. Menggunakan kerangka distinction dari Pierre Bourdieu (1984), penelitian ini menyoroti bagaimana praktik pelabelan ini tidak hanya beroperasi sebagai bentuk kontrol moral, tetapi juga sebagai strategi simbolik untuk menegaskan batas-batas kelas sosial. Selera dan konsumsi misalnya pilihan minuman, makanan, atau fandom diubah menjadi penanda inferioritas yang dilegitimasi oleh kelompok dominan untuk mempertahankan hierarki sosialnya. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan kerangka analisis wacana kritis (AWK) Fairclough (2001) untuk memahami bagaimana praktik kebahasaan bekerja dalam dimensi proses relasi kekuasaan. Dengan demikian, stereotip “the nuruls” tidak hanya mereproduksi seksisme, tetapi juga menciptakan distinctions yang merendahkan perempuan berdasarkan kelas sosial, mode konsumsi dan modal budaya yang mereka miliki. Penelitian ini menegaskan bahwa pelabelan tersebut berkontribusi pada normalisasi citra negatif perempuan dan mengukuhkan struktur sosial patriarkal yang bekerja melalui media digital.
Copyrights © 2026