This study aims to analyze the critical discourse of a Tempo.co news article titled “The West Papua National Committee Rejects Gibran Rakabuming’s Assignment to Papua” using Teun A. van Dijk’s model. The research focuses on three main dimensions: text structure, social cognition, and social context. A qualitative descriptive method was applied by analyzing the article published on July 11, 2025. The findings indicate that thematically, the news emphasizes Papua’s resistance to the government’s symbolic policy. Lexical choices such as “image-making” and “puppet” reveal ideological opposition to dominant power. Cognitively, Tempo.co demonstrates critical journalistic ideology oriented toward human rights and social justice, presenting Papua as a discourse subject rather than an object. In the social context, the news reflects political dynamics following the inauguration of the Prabowo–Gibran administration amid issues of legitimacy and political dynasty. Overall, the article functions not only as factual reporting but also as an ideological space for negotiating power and resistance. This study highlights the role of media in shaping public perception of Papua and reinforces the position of critical journalism in Indonesia.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis wacana kritis pada berita Tempo.co berjudul “Komite Nasional Papua Barat Tolak Penugasan Gibran Rakabuming ke Papua” dengan menggunakan model Teun A. van Dijk. Kajian ini menelaah tiga dimensi utama: struktur teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui analisis teks berita yang dipublikasikan pada 11 Juli 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara tematik, berita menonjolkan resistensi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) terhadap kebijakan simbolik pemerintah pusat. Diksi seperti “pencitraan” dan “boneka” mengindikasikan perlawanan terhadap kekuasaan dominan. Secara kognitif, redaksi Tempo.co dipengaruhi ideologi jurnalisme kritis yang berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial, dengan menghadirkan Papua sebagai subjek wacana, bukan objek. Sementara pada konteks sosial, teks berita ini lahir dari situasi politik pasca-pelantikan pemerintahan Prabowo–Gibran yang diwarnai isu legitimasi dan politik dinasti. Hasil sintesis menunjukkan bahwa berita Tempo.co tidak hanya menyampaikan informasi faktual, tetapi juga menjadi ruang ideologis tempat negosiasi kekuasaan dan resistensi terjadi. Penelitian ini menegaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi publik tentang Papua sekaligus memperkuat posisi jurnalisme kritis di Indonesia.
Copyrights © 2025