Perforasi gaster merupakan kondisi gawat darurat abdomen dengan angka morbiditas dan mortalitas yang masih tinggi, umumnya berhubungan dengan tukak lambung akibat penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (NSAID). Meskipun penelitian mengenai perforasi gaster telah banyak dilakukan, data karakteristik pasien berbasis rumah sakit daerah, terutama yang menyoroti peran konsumsi jamu sebagai faktor risiko, masih terbatas di Indonesia. Penelitian ini memiliki kebaruan dengan menyajikan gambaran karakteristik klinis dan demografis pasien perforasi gaster di RSUD Waled selama periode lima tahun (2020–2024), termasuk riwayat konsumsi jamu dan NSAID sebagai faktor predisposisi yang jarang dilaporkan secara sistematis. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif dengan metode total sampling. Data diperoleh dari rekam medis pasien perforasi gaster yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan usia, jenis kelamin, riwayat konsumsi jamu atau NSAID, serta lokasi perforasi gaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perforasi gaster paling sering terjadi pada kelompok usia lanjut dan didominasi oleh pasien laki-laki. Sebagian besar pasien memiliki riwayat konsumsi jamu dan/atau NSAID, dengan lokasi perforasi tersering pada antrum pyloricum. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa kelompok usia lanjut, laki-laki, serta riwayat konsumsi jamu atau NSAID merupakan karakteristik dominan pasien perforasi gaster, sehingga temuan ini penting sebagai dasar peningkatan pencegahan, edukasi masyarakat, dan kewaspadaan klinis tenaga kesehatan dalam deteksi dini dan penatalaksanaan perforasi gaster.
Copyrights © 2026