Produksi padi nasional menunjukkan kecenderungan stagnan pada kisaran 52–54 juta ton GKG dalam beberapa tahun terakhir, yang mencerminkan kerentanan sistem produksi terhadap variabilitas iklim dan ketersediaan air. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi faktor hidrologi klimatologi dan aspek agribisnis untuk meningkatkan produktivitas usahatani padi di Desa Sidosari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Data iklim dan hidrologi diperoleh dari sumber sekunder daring, kemudian diolah menggunakan pendekatan Neraca Air Umum (NAU) dengan perhitungan evapotranspirasi potensial metode Thornthwaite. Analisis menghasilkan pola curah hujan tahunan 2.273 mm dengan ETP 2.393 mm, surplus air 348,4 mm dan defisit 468,2 mm, serta identifikasi 6 Bulan Basah, 4 Bulan Lembab, dan 2 Bulan Kering berturut-turut yang menempatkan Desa Sidosari pada tipe agroklimat C2 menurut klasifikasi Oldeman. Kondisi ini menunjukkan bahwa wilayah penelitian sesuai untuk satu musim tanam padi utama pada periode surplus (tanam November–Desember, panen Maret) dan satu musim palawija pada periode kering, sementara upaya penanaman padi kedua menghadapi risiko tinggi akibat defisit air. Dari sisi agribisnis, temuan tersebut mengimplikasikan perlunya penyesuaian kalender tanam berbasis neraca air, investasi pada irigasi mikro dan konservasi air, diversifikasi usaha padi–palawija, serta penguatan manajemen risiko melalui asuransi dan kelembagaan petani. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi analisis hidrologi–klimatologi dengan perencanaan agribisnis mampu menyediakan dasar ilmiah dan praktis bagi perancangan strategi produksi, pembiayaan, dan pemasaran yang lebih adaptif terhadap iklim, sehingga meningkatkan peluang keberlanjutan dan keuntungan usahatani padi di Desa Sidosari.
Copyrights © 2025