Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kinerja pengering kopi sistem hybrid berdasarkan variasi kecepatan aliran udara. Pengering kopi hybrid memanfaatkan sumber pemanas yang berasal dari sinar matahari dan heater yang dikontrol secara otomatis berbasis suhu menggunakan arduino. Perlakuan yang diberikan pada pada masing-masing pengering berupa variasi kecepatan aliran udara pada saluran inlet sebesar 2 m/s dan 4 m/s. Jenis kopi yang digunakan adalah kopi liberika dengan massa 1000 gram dan kadar air awal 45,996%. Proses pengeringan dilakukan selama 3 hari secara berturut-turut, mulai dari 09.00 WIB sampai 15.00 WIB, dengan pengambilan data setiap 30 menit. Data yang diukur berupa suhu dan kelembapan udara ruang pengering, serta massa dan kadar air biji kopi. Selama 3 hari proses pengeringan, pada pengering kopi hybrid dengan kecepatan aliran udara 4 m/s diperoleh suhu udara rata-rata sebesar 52,5 oC, kelembapan udara rata-rata sebesar 30,2%, pengurangan massa biji kopi dari 1000 gram menjadi 526 gram, dan penurunan kadar air biji kopi dari 45,996% menjadi 6,285%, sedangkan pada pengering kopi hybrid dengan kecepatan aliran udara 2 m/s diperoleh suhu udara rata-rata sebesar 47,8 oC, kelembapan udara rata-rata sebesar 42,8%, pengurangan massa biji kopi dari 1000 gram menjadi 530 gram, dan penurunan kadar air biji kopi dari 45,996% menjadi 7,072%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi kecepatan aliran udara berpengaruh terhadap peningkatan suhu dan penurunan kelembapan udara ruang pengering, serta pengurangan massa dan penurunan kadar air biji kopi. Oleh karena itu, kinerja pengering kopi hybrid dengan kecepatan aliran udara 4 m/s lebih baik daripada pengering kopi hybrid dengan kecepatan aliran udara 2 m/s.
Copyrights © 2025