Artikel ini menganalisis politik pendidikan kolonial Belanda di Celebes (Sulawesi) pada periode 1933-1934 berdasarkan laporan resmi Gouverneur van Celebes, L.J.J. Caron. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah kritis terhadap arsip kolonial sebagai sumber primer, penelitian ini mengungkap bagaimana sistem pendidikan berfungsi sebagai instrumen efektif untuk melanggengkan stratifikasi sosial berdasarkan ras (Eropa, Cina, dan Pribumi) dan mengonsolidasi kekuasaan kolonial. Analisis menunjukkan bahwa meskipun terdapat perluasan akses pendidikan bagi pribumi melalui volksscholen (sekolah rakyat), strukturnya tetap hierarkis dan diskriminatif, menciptakan ketidaksetaraan. Tulisan ini berargumen bahwa kebijakan pendidikan pada masa tersebut tidak hanya mencerminkan politik etis yang pragmatis, tetapi juga respons terhadap tekanan ekonomi Depresi Besar 1930-an, yang terlihat dari pemotongan anggaran, rasionalisasi guru, dan ketergantungan pada uang sekolah. Penelitian ini menyumbang pada pemahaman yang lebih kompleks tentang warisan kolonial dalam sistem pendidikan Indonesia, menunjukkan bahwa modernisasi dan segregasi berjalan beriringan.
Copyrights © 2026