Batik dan tekstil tenun merupakan dua medium ekspresi budaya yang berkembang dari akar tradisi yang berbeda di wilayah Nusantara. Batik tumbuh pesat di Jawa, Bali, dan kawasan pesisir, sementara Sulawesi Tenggara secara historis membangun identitas visualnya melalui tradisi tenun. Ketiadaan tradisi batik di wilayah ini menyebabkan motif tenun kurang terekspos dan jarang diadaptasi dalam media visual kontemporer. Kondisi tersebut menuntut adanya upaya transmediasi budaya yang mampu menjaga nilai tradisional sekaligus responsif terhadap perkembangan teknologi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan motif batik digital berbasis geometri fraktal yang terinspirasi dari motif tenun tradisional Sulawesi Tenggara sebagai upaya pelestarian budaya melalui inovasi teknologi. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan pendekatan pemodelan fraktal, transformasi geometri, dan integrasi kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan variasi desain adaptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, dokumentasi, wawancara dengan perajin tenun, analisis geometris, serta validasi ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraktal Koch Curve, Barnsley Fern, dan Sierpinski Triangle mampu merepresentasikan struktur repetitif dan simetri motif tenun Sulawesi Tenggara. Integrasi AI memperkaya komposisi warna dan eksplorasi visual tanpa menghilangkan filosofi budaya. Validasi ahli menghasilkan skor rata-rata 3,61 (kategori sangat layak), sehingga desain yang dihasilkan memenuhi aspek estetika, ilmiah, dan budaya.
Copyrights © 2026