ABSTRACT This article examines the stereotypes toward female street electronic music dancers on TikTok through a case study of the account @cctvhoregmojokerto. The study focuses on how the bodies and cultural expressions of women from marginalized social classes are represented, interpreted, and contested within digital spaces shaped by algorithmic systems and the logic of virality. Using a virtual ethnography approach, this research applies a multi-level analysis at the individual, community, and social levels, while integrating key aspects of digital media analysis, including media space, media documents, media objects, experiential narratives, and user interactions. The findings indicate that stereotypes toward lower-class female bodies are not only produced through audience comments but are also reinforced by platform algorithms that prioritize emotional engagement. At the same time, digital spaces provide opportunities for symbolic agency and resistance, as reflected in supportive comments, community solidarity, and creators’ awareness in managing bodily representation and cultural identity. This study highlights social media as a public communication arena where meanings are continuously negotiated between dominant aesthetic norms and local cultural expressions within the context of Indonesia’s digital society. ABSTRAK Artikel ini menganalisis stereotipe terhadap penari musik elektronik jalanan perempuan di media sosial TikTok melalui studi kasus akun @cctvhoregmojokerto. Fokus penelitian diarahkan pada bagaimana tubuh dan ekspresi budaya perempuan dari kelas sosial marjinal direpresentasikan, dimaknai, dan diperdebatkan dalam ruang digital yang dipengaruhi oleh algoritma dan logika viralitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi virtual dengan analisis bertingkat pada level individu, komunitas, dan sosial, serta mengintegrasikan aspek ruang media, dokumen media, objek media, narasi pengalaman, dan interaksi pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stereotipe terhadap tubuh perempuan kelas bawah tidak hanya diproduksi melalui komentar audiens, tetapi juga diperkuat oleh mekanisme algoritmik platform yang memprioritaskan keterlibatan emosional. Di sisi lain, ruang digital juga membuka peluang bagi munculnya agensi simbolik dan bentuk resistensi, yang tampak melalui komentar afirmatif, solidaritas komunitas, serta kesadaran kreator dalam mengelola representasi tubuh dan identitas kultural. Temuan ini menegaskan bahwa media sosial berfungsi sebagai arena komunikasi publik yang memperlihatkan negosiasi makna antara dominasi norma estetika arus utama dan ekspresi budaya lokal dalam konteks masyarakat digital Indonesia.
Copyrights © 2025