ABSTRACT This study examines the operation of patriarchal discourse in online news coverage of infidelity, particularly through the use of the term “pelakor” (a derogatory label for women involved in extramarital affairs). Using Norman Fairclough’s Critical Discourse Analysis (CDA) framework supported by the Hierarchy of Influence and Feminist Media Theory, the study aims to reveal how patriarchal ideology is reproduced in digital journalism. Findings from micro, meso, and macro analyses show that online media reproduce patriarchal ideology through news framing, reinforce sexism and double standards, and sacrifice gender justice for economic interests. These practices contribute to the normalization of patriarchal values and gender bias in public discourse. The study concludes by emphasizing the need for gender-sensitive journalism guidelines and training programs on gender and sexuality to foster equality and inclusivity in media representation. This finding also reinforce the arguments of media feminism that the media functions as an ideological agent in the era of digital capitalism by simultaneously reproducing and regulating moral values imposed on women, while perpetuating the patriarchal ideology. ABSTRAK Studi ini membahas mengenai diskursus patriarki yang beroperasi pada berita perselingkuhan dengan penyebutan kata pelakor. Studi ini bertujuan memperlihatkan cara-cara ideologi patriarki beroperasi di media massa daring. Teori yang digunakan adalah teori Critical Discourse Analysis (CDA), Hierarchy of Influence dan Media Feminisme. Metode yang digunakan adalah metode CDA dari Norman Faiclough. Dari analisis mikro, meso dan makro ditemukan tiga hal penting yaitu media mereproduksi praktik ideologi patriarki melalui berita perselingkuhan; media meregulasi norma sosial patriarkal melalui seksisme dan standar ganda; media mengorbankan keadilan gender bagi kepentingan ekonomi. Kesimpulan dalam studi ini adalah fakta bahwa media mereproduksi dan menormalisasi nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat mengenai perselingkuhan dan menerapkannya di media dalam bentuk seksisme dan standar ganda. Untuk mencegahnya diperlukan itikad baik media menerapkan pedoman berita yang ramah perempuan dan anak serta menginisiasi pelatihan jurnalis berbasis gender dan seksualitas. Temuan ini sekaligus menguatkan argumen feminisme media bahwa media menjadi salah satu agen ideologi patriarki dalam era kapitalisme digital dengan mereproduksi sekaligus mengontrol nilai-nilai moralitas bagi perempuan dan mengekalkannya.
Copyrights © 2025