Stunting sebagai masalah kesehatan kronis akibat kekurangan gizi masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama di daerah tertinggal seperti Desa O’o, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, dengan prevalensi mencapai 20,60%. Penelitian ini mengusulkan pendekatan edukasi stunting yang inovatif melalui integrasi prinsip kimia, khususnya reaksi redoks, dalam pengolahan pangan bergizi dan pengelolaan limbah organik. Tujuan penelitian adalah mengembangkan model edukasi berbasis kimia terapan untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam pencegahan stunting secara holistik. Metode partisipatif diterapkan dengan melibatkan 39 kader Posyandu Desa O’o dan UMKM lokal. Kegiatan meliputi pelatihan tentang peran reaksi redoks dalam mempertahankan dan meningkatkan ketersediaan hayati zat gizi mikro (besi, seng, kalsium), praktik pengolahan pangan lokal (nugget jamur, bakso jamur, jamur krispi) dengan kontrol oksidasi dan reduksi, serta pembuatan pupuk organik cair (POC) dari limbah rumah tangga melalui fermentasi anaerob. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan kader sebesar 50%, terutama dalam pemahaman penerapan redoks untuk mengurangi senyawa antinutrisi dan mempertahankan kandungan gizi. Kader berhasil memproduksi olahan pangan dengan retensi gizi hingga 80% serta mengurangi timbunan sampah organik rumah tangga sebesar 60% melalui produksi POC. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan dan gizi, tetapi juga menciptakan siklus berkelanjutan antara kesehatan, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Sehingga, integrasi prinsip kimia khususnya reaksi redoks dalam edukasi stunting terbukti efektif sebagai solusi kontekstual, partisipatif, dan berbasis sains terapan. Model ini dapat diadopsi sebagai strategi inovatif untuk percepatan penurunan stunting di daerah lain dengan permasalahan serupa.
Copyrights © 2026