Studi ini mengkaji perubahan dalam penjualan dan usaha pemulihan citra PT Pertamina setelah terjadinya skandal korupsi serta pengoplosan Pertamax yang viral di media sosial. Metodologi yang diterapkan adalah deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan analisis langsung dari penggunaan produk pertamina sebagai sumber utama. Temuan penelitian menunjukkan bahwa insiden tersebut secara signifikan mengurangi kepercayaan konsumen dan memicu pergeseran kepada pesaing lain, seperti Shell. Respons dari manajemen dan pemerintah yang dianggap lambat dan reaktif semakin memperburuk citra perusahaan, dengan masalah utama terletak pada lemahnya sistem pengawasan internal. Meski demikian, jaringan luas stasiun pengisian bahan bakar Pertamina di Indonesia tetap menjadikannya pilihan utama bagi konsumen. Strategi jangka pendek yang meliputi diskon dan pemberian voucher hanya terbukti efektif untuk sementara waktu. Untuk pemulihan jangka panjang diperlukan reformasi dalam perusahaan melalui peningkatan sistem pengawasan, transparansi, audit yang sistematis, dan komunikasi yang terbuka. Dengan cara ini, penguatan dalam tata kelola dan etika sangat penting untuk memulihkan reputasi serta menjaga kesetiaan pelanggan di masa depan.
Copyrights © 2025