Stunting merupakan masalah gizi kronis yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Di Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, angka stunting masih tinggi meskipun telah diterapkan program nasional pengendalian stunting melalui aksi konvergensi lintas sektor. Upaya ini melibatkan berbagai aktor seperti Puskesmas, pemerintah desa, TP-PKK, kader posyandu, dan masyarakat. Program ini menunjukkan hasil positif dengan penurunan kasus stunting pada anak usia 0–23 bulan dari 26 kasus di bulan Januari menjadi 12 kasus di bulan Juni. Keberhasilan ini didukung pendekatan kolaboratif berbasis data melalui rembuk stunting, P2K2, edukasi gizi, pemanfaatan lahan pekarangan, serta intervensi ekonomi desa. Sekretariat Kecamatan berperan aktif sebagai koordinator wilayah yang menjaga sinergi antar OPD. Di tingkat desa, kepala desa memanfaatkan dana desa secara tepat sasaran, dibantu TP-PKK dan kader posyandu, yang berperan penting dalam pencegahan stunting. Pendekatan proses yang sistematis dan integratif mencakup identifikasi masalah, pelaksanaan intervensi, hingga evaluasi. Sasaran intervensi juga mempertimbangkan faktor keluarga seperti kesadaran ibu, keterlibatan ayah, dan kondisi sosial ekonomi. Faktor pendukung keberhasilan program meliputi komunikasi lintas sektor yang kuat, semangat kerja pelaksana, dan partisipasi aktif masyarakat. Meski demikian, hambatan masih ada, seperti birokrasi yang lamban dan prosedur pencairan dana yang rumit, yang menghambat efektivitas program secara maksimal.
Copyrights © 2025