Kawasan Asia Tenggara mengalami transformasi digital yang pesat dengan pertumbuhan e-commerce lintas batas yang signifikan, namun masih menghadapi fragmentasi regulasi dan ketimpangan infrastruktur digital antar negara ASEAN yang menghambat integrasi ekonomi digital optimal. Penelitian ini menganalisis peluang dan tantangan integrasi ekonomi digital ASEAN melalui e-commerce lintas batas serta memberikan rekomendasi strategis untuk memaksimalkan potensi tersebut. Pendekatan kualitatif dengan metode analisis dokumen dan studi literatur sistematis digunakan untuk menganalisis publikasi akademik terindeks, laporan organisasi internasional, dan dokumen kebijakan ASEAN periode 2020-2025. Pasar e-commerce lintas batas Asia Tenggara mencapai USD 45,39 miliar pada 2025 dengan proyeksi pertumbuhan 11,14% per tahun hingga USD 76,97 miliar pada 2030. Peluang utama meliputi basis 402 juta konsumen digital, dominasi segmen B2C (78,67%), dan dukungan kerangka kebijakan DEFA serta RCEP. Tantangan signifikan mencakup kesenjangan infrastruktur TIK (0,7%-5,4% dari PDB), fragmentasi regulasi, kompleksitas logistik dengan tingkat pengembalian 22% untuk kategori fashion, dan ancaman keamanan siber yang meningkat. Studi ini menunjukkan bahwa integrasi e-commerce lintas batas ASEAN memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan harmonisasi kebijakan, investasi infrastruktur merata, dan kerangka keamanan siber bersama rekomendasi strategis yang melampaui analisis pasar konvensional dan memberikan roadmap implementasi konkret untuk pembuat kebijakan regional.
Copyrights © 2025