Studi ini fokus pada integrasi dan sinergi penalaran induktif dan deduktif sebagai dasar logistik untuk memperoleh dan memvalidasi pengetahuan, khususnya melalui lensa pemikiran pembaruan Islam oleh Harun Nasution. Di era informasi, keterampilan berpikir logistik sangatlah penting. Meskipun induksi dan deduksi sering dipandang terpisah, praktik ilmiah modern menunjukkan komplementaritas mereka. Harun Nasution, yang menjabat sebagai Rektor IAIN Jakarta (1974-1982), adalah tokoh kunci dalam memajukan pemikiran Islam rasional di Indonesia. Inisiatif pembaruannya berasal dari mengurung yang mendalam terhadap dua isu utama: dominasi teologi fatalistik (Asy'ariyah) dan kurikulum pendidikan Islam yang kaku dan terlalu fokus pada fikih (yurisprudensi Islam). Sebagai tanggapan, ia memprakarsai reformasi kurikulum yang komprehensif dan menghidupkan kembali Teologi Mu'tazilah, yang sangat menghargai akal. Pendekatan logistik Harun Nasution terhadap pengambilan keputusan adalah contoh ideal dari integrasi kedua metode penalaran: induksi dan deduksi. Perpaduan induksi dan deduksi ini menjadikan keputusan Harun Nasution logis, adaptif, dan relevan dengan modernitas. Hal ini menggarisbawahi pentingnya penafsiran induktif terhadap ajaran Islam yang deduktif.
Copyrights © 2026