Desa Penglipuran di Bali merupakan salah satu desa wisata berbasis budaya yang berhasil mempertahankan nilai-nilai tradisional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata. Namun, keberhasilan ini tidak lepas dari tantangan seperti ketimpangan distribusi manfaat ekonomi, minimnya peran pemerintah, serta ketergantungan tinggi pada pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi masyarakat lokal dalam mengelola pariwisata guna mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan menggunakan pendekatan 3A (Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas). Pada penelitian ini metode yang digunakan yaitu metode kualitatif studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh adat, pelaku usaha, pengelola wisata, dan komunitas lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat secara aktif menerapkan strategi pelestarian budaya fisik dan non-fisik, promosi digital melalui media sosial, pengembangan homestay, kerajinan bambu, dan kuliner tradisional sebagai sumber pendapatan. Strategi kolaboratif berbasis Pentahelix juga mulai diterapkan, meskipun kontribusi pemerintah masih dirasakan minim. Dengan pendekatan 3A yang dijalankan masyarakat terbukti memperkuat daya saing Desa Penglipuran sebagai destinasi wisata berkelanjutan dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Untuk keberlanjutan jangka panjang, diperlukan sinergi yang lebih kuat antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta agar distribusi manfaat ekonomi menjadi lebih adil dan pembangunan desa wisata lebih inklusif.
Copyrights © 2025