Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna kaum cendekia dalam al-Qur’an melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, dengan fokus utama pada istilah Ulul albab yang terdapat dalam QS. Ali Imran ayat 190. Dalam al-Qur’an, istilah kaum cendekia tidak hanya direpresentasikan oleh Ulul albab, tetapi juga melalui istilah lain seperti ulul ilmi, ulunnuha, dan ulul abshar. Keseluruhan istilah tersebut menggambarkan karakter manusia berakal yang tidak hanya mengandalkan kemampuan intelektual semata, melainkan juga menjadikan iman dan kesadaran spiritual sebagai aspek integral dari proses berpikir. Pemilihan QS. Ali Imran ayat 190 didasarkan pada kandungan maknanya yang kaya secara linguistik, simbolik, dan spiritual. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi kepustakaan dan dengan pendekatan tematik (maudhu’i) untuk menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan, serta analisis semiotik dua tingkat—yakni denotatif (makna literal) dan mitologis (makna ideologis/kultural)—penelitian ini menemukan bahwa Ulul albab bukan hanya menunjuk kepada individu berakal secara umum, tetapi juga membentuk konstruksi simbolik tentang cendekiawan muslim ideal. Figur ini adalah mereka yang mampu menyatukan dzikir dan pikir, dan menjadikan perenungan terhadap alam sebagai jalan untuk memahami realitas hidup secara lebih mendalam.
Copyrights © 2025