Loyalitas karyawan, khususnya dalam bentuk Komitmen Organisasi Afektif, merupakan aset non-finansial krusial di tengah volatilitas bisnis kontemporer, di mana angkatan kerja modern (Gen Milenial dan Z) menuntut perlakuan yang menghargai martabat individu (Kepemimpinan Humanis) alih-alih hanya kompensasi transaksional. Penelitian kualitatif ini bertujuan mengeksplorasi mekanisme interpretatif pengalaman karyawan terhadap praktik Kepemimpinan Humanis dan dampaknya pada loyalitas, mengisi kesenjangan empiris dari studi kuantitatif. Menggunakan pendekatan Fenomenologi Interpretatif melalui wawancara mendalam terhadap 12 partisipan kunci, analisis tematik menemukan bahwa loyalitas tidak terbentuk secara linier, melainkan dimediasi oleh interpretasi kognitif terhadap praktik pemimpin. Temuan kunci menunjukkan bahwa loyalitas sangat bergantung pada Otentisitas Manajerial (konsistensi dan kerentanan) dan Keadilan Interaksional (perlakuan hormat), yang harus dipersepsikan sebagai tulus (non-prosedural). Lebih lanjut, Keamanan Psikologis (Psychological Safety) dan Dukungan Well-being berfungsi sebagai jembatan utama, memicu obligasi timbal balik dan membebaskan energi mental yang diinvestasikan kembali sebagai kinerja extra-role. Disimpulkan, Kepemimpinan Humanis adalah strategi bisnis krusial yang efisien mengubah praktik interaksi menjadi ikatan emosional yang stabil, asalkan didukung oleh konsistensi moral dan bukan sekadar kebijakan 'cek-list' manajemen.
Copyrights © 2025