Distribusi laba tidak sekadar persoalan teknis pembagian keuntungan, melainkan cerminan preferensi manajerial dalam menyeimbangkan kepentingan pemegang saham dan kebutuhan pembiayaan internal. Pada sejumlah bank yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2022–2024, ekspansi laba dan aset ternyata tidak selalu diterjemahkan menjadi peningkatan dividen. Ketegangan antara kinerja akuntansi dan kebijakan distribusi laba tersebut mengindikasikan bahwa keputusan dividen tidak sepenuhnya digerakkan oleh capaian finansial jangka pendek. Bagi investor, kondisi ini menjadi krusial karena dividen berfungsi sebagai representasi kredibilitas manajemen sekaligus proyeksi keberlanjutan usaha. Dengan memanfaatkan data 18 perusahaan perbankan yang memenuhi kriteria seleksi selama periode pengamatan, hubungan antara karakteristik keuangan dan kebijakan dividen diuji melalui regresi linier berganda. Temuan empiris memperlihatkan bahwa kemampuan menghasilkan laba dan ketersediaan arus kas bebas berperan dominan dalam mendorong pembayaran dividen, sementara struktur pendanaan, tingkat likuiditas, dan skala perusahaan tidak menunjukkan peran yang menentukan. Keterbatasan ruang lingkup tersebut membuka peluang bagi kajian lanjutan untuk melibatkan spektrum emiten yang lebih luas serta memasukkan dimensi peluang investasi, tata kelola, dan tanggung jawab sosial guna memperoleh gambaran yang lebih utuh.
Copyrights © 2025