Muhammadiyah, didirikan pada 1912 oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, awalnya mengadopsi pendekatan kulturalisme yang mengintegrasikan Islam dengan budaya lokal Jawa. Namun, pada periode 1930-an, terjadi pergeseran signifikan menuju puritanisme, yang menekankan pemurnian ajaran dari unsur bid'ah, takhyul, dan khurafat. Artikel ini menganalisis faktor-faktor utama pergeseran tersebut, prosesnya, dampak terhadap identitas Muhammadiyah dalam masyarakat Islam Indonesia, serta pengaruh eksternal seperti ideologi Wahabi dan globalisasi kolonial. Analisis historis menunjukkan bahwa pergeseran ini didorong oleh dinamika internal (peran tokoh kunci dan Majelis Tarjih) serta eksternal (penyebaran ide Salafi melalui haji dan modernisasi transportasi). Dampaknya menciptakan dikotomi antara Muhammadiyah sebagai gerakan modernis-puritan dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai pembela tradisi, yang tetap relevan hingga kini.
Copyrights © 2026