Budaya patriarki dalam keluarga Indonesia masih menempatkan ayah sebagai pencari nafkah, bukan sebagai pengasuh aktif, sehingga tanggung jawab pengasuhan lebih banyak dibebankan pada ibu. Kondisi ini berdampak pada rendahnya keterlibatan ayah dan berasosiasi dengan berbagai masalah perkembangan anak, termasuk kemandirian, disiplin, empati, serta regulasi diri. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan arah kebijakan yang mendorong perubahan nilai sosial dan struktural melalui peran pemerintah pusat dan daerah, komunitas, serta dunia kerja, dengan fokus pada edukasi publik, kampanye keterlibatan ayah, redefinisi maskulinitas dalam keluarga, dan kebijakan kerja ramah keluarga. Pendekatan lintas sektor ini diharapkan mampu memperkuat peran ayah dalam pengasuhan dan mendukung terwujudnya keluarga Indonesia yang berkualitas.
Copyrights © 2025