Penelitian ini bertujuan mengungkap secara spesifik sikap skeptis pedagang sayuran di pasar tradisional Amparita terhadap pemasaran digital dan alasan mendasarinya serta konsekuensinya. Metode yang digunakan adalah kualitatif eksploratif dan jenis penelitian studi kasus instumental tunggal karena penelitian ini berfokus pada satu kasus di satu lokasi namun memiliki relevansi luas terhadap fenomena serupa di tempat lain. Dengan berfokus pada alasan di balik sikap skeptis, serta bagaimana sikap tersebut memengaruhi keputusannya menggunakan media digital dan dampak ekonominya bagi pedagang sayuran. Analisis data menggunakan pendekatan model Miles dan Huberman yang terdiri Reduksi data, Penyajian data dan Penarikan simpulan atau verifikasi. Agar data yang didapat terjamin keabsahannya, maka dilakukan uji triangulasi yaitu usaha untuk mengecek keabsahan data atau informasi dari sudut pandang yang berbeda-beda terhadap apa yang telah dilakukan oleh periset. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap skeptis pedagang sayuran di Pasar Amparita terhadap pemasaran digital disebabkan oleh keterbatasan literasi digital, karakteristik produk yang cepat rusak dan bernilai rendah, serta pengalaman negatif dalam menggunakan media sosial. Bentuk skeptisisme tersebut tampak dari perilaku pedagang yang hanya jarang memposting di media sosial, lebih mengandalkan telepon, mencoba sesekali tetapi berhenti, bahkan ada yang sama sekali tidak pernah mencoba. Konsekuensi dari sikap ini adalah terbatasnya jangkauan pasar, kecilnya keuntungan yang diperoleh, tidak adanya perluasan pasar, hingga tingginya risiko kerugian akibat barang tidak laku. Dengan demikian, sikap skeptis pedagang bukanlah bentuk penolakan mutlak terhadap teknologi, melainkan respons rasional terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan teknis yang mereka hadapi.
Copyrights © 2025