Energi surya di Indonesia memiliki potensi besar, tetapi sel surya konvensional memiliki daya keluaran dan kinerja yang rendah karena posisi pemasangan yang tetap, yang mengurangi cahaya insiden (kerugian kosinus). Penggunaan reflektor masih rentan terhadap bayangan parsial. Studi ini bertujuan untuk menguji pengaruh penambahan sistem pelacak surya sumbu tunggal dengan reflektor dan konsentrator lensa Fresnel pada daya keluaran sel surya. Metode yang digunakan adalah pendekatan eksperimental yang membandingkan sel surya statis (90°) dengan sistem yang dimodifikasi menggunakan sel surya polikristalin 10 WP, reflektor cermin, dan mikrokontroler Arduino Nano dengan LDR (Solar Tracker Single Axis). Hasil menunjukkan bahwa sistem yang dimodifikasi secara konsisten menghasilkan daya keluaran yang lebih tinggi. Solar Tracker Single Axis dengan reflektor dan konsentrator lensa Fresnel terbukti efektif dalam meminimalkan kerugian kosinus di pagi hari, menghasilkan daya hingga 5 kali lebih besar daripada sistem statis pada tanggal 22 Mei 2025 (7,83 Watt dibandingkan dengan 1,56 Watt). Sistem yang dimodifikasi ini juga menunjukkan ketahanan yang lebih unggul terhadap anomali termal di bawah radiasi ekstrem (>1000 W/m²), menghasilkan daya 8,8 kali lebih besar (4,51 W) daripada sistem statis (0,51 W), dan memperpanjang durasi produksi energi efektif hingga pukul 09.00–15.00 WIB.
Copyrights © 2025