Penelitian ini membandingkan kurikulum nasional dan kurikulum matematika Indonesia dan Singapura melalui analisis dokumen resmi, buku teks, serta literatur akademik. Hasil kajian menunjukkan bahwa kurikulum Singapura berorientasi pada kompetensi, menekankan kedalaman konsep, pemecahan masalah tingkat tinggi, serta struktur spiral yang sistematis. Buku teks matematika Singapura memuat soal non-rutin, representasi variatif, dan pendekatan Concrete–Pictorial–Abstract (CPA), sehingga mendukung kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konseptual siswa. Sebaliknya, kurikulum Indonesia, meskipun melalui Kurikulum Merdeka telah memberi ruang fleksibilitas, masih menghadapi tantangan berupa implementasi yang tidak merata, kedalaman materi yang terbatas, dominasi soal prosedural, serta kesiapan guru yang belum optimal. Perbedaan kualitas buku teks dan pendekatan didaktik tampak berkontribusi pada kesenjangan capaian internasional kedua negara, di mana Singapura konsisten unggul dalam asesmen PISA sementara Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan desain kurikulum, peningkatan kualitas buku ajar, serta pengembangan kompetensi guru sebagai langkah strategis untuk memperkuat pembelajaran matematika dan meningkatkan daya saing pendidikan Indonesia.
Copyrights © 2025