Penelitian ini mengkaji dampak kompleks media sosial terhadap kesehatan mental di era digital, menggunakan pendekatan kualitatif dengan model studi pustaka. Data dikumpulkan dari jurnal ilmiah, buku, prosiding, dan laporan penelitian kredibel, kemudian dianalisis secara sistematis untuk mensintesis temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi teknologi, khususnya media sosial, telah menciptakan paradigma baru dalam psikologi, memunculkan bidang psikologi siber yang menelaah identitas digital, komunikasi daring, dan perilaku adiktif. Media sosial menawarkan manfaat positif seperti peningkatan konektivitas, dukungan sosial melalui komunitas daring, serta edukasi dan pengurangan stigma kesehatan mental. Namun, media sosial juga membawa dampak negatif signifikan, meliputi perbandingan sosial yang memicu citra diri negatif, Fear of Missing Out (FoMO), potensi kecanduan, cyberbullying, serta pengaruh durasi, frekuensi, dan jenis konten yang dikonsumsi. Dalam konteks Indonesia, dampak ini diperparah oleh tekanan citra diri yang sempurna, paparan konten tidak realistis, cyberbullying (dialami 45% remaja), kurangnya literasi digital, kualitas tidur yang buruk, polarisasi sosial, penyebaran hoaks, dan ketergantungan digital (rata-rata 3-4 jam penggunaan per hari). Penelitian ini mengidentifikasi kesenjangan studi di Indonesia dan merekomendasikan pendidikan literasi digital, kampanye kesadaran publik, peran aktif orang tua, promosi penggunaan media sosial yang bermakna, dukungan psikologis terintegrasi, dan tanggung jawab platform media sosial untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat.
Copyrights © 2026