Keberagaman mahasiswa dalam organisasi seni seperti KABUMI menciptakan ruang interaksi sosial budaya yang berpotensi menjadi platform pembelajaran multikultural, namun kajian mengenai fungsinya sebagai sarana integrasi sosial masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika multikultural di KABUMI dengan meninjau motivasi anggota, proses pembelajaran sosial budaya dalam aktivitas rutin, serta tantangan keberagaman yang dihadapi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melibatkan 18 anggota aktif sebagai partisipan. Data dikumpulkan melalui kuesioner terbuka dan dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola interaksi anggota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat terhadap seni Sunda, kebutuhan akan komunitas suportif, dan pencarian identitas budaya menjadi motivasi utama anggota. Interaksi melalui latihan dan pementasan terbukti memperkuat keterampilan komunikasi, empati, dan kerja sama. Tantangan berupa hambatan bahasa dan perbedaan gaya komunikasi berhasil diatasi melalui adaptasi dan dukungan antaranggota. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa organisasi seni dapat menjadi ruang pembelajaran multikultural yang efektif dalam membentuk identitas budaya melalui proses belajar sosial. Secara praktis, temuan ini dapat menjadi rujukan bagi perguruan tinggi dalam merancang pembinaan organisasi seni sebagai model pendidikan multikultural berbasis seni tradisional untuk meningkatkan kohesi sosial dan toleransi mahasiswa.
Copyrights © 2026