Collaborative governance, Coastal tourism, Belitung, SustainabilityPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan model Community-Based Tourism (CBT) berbasis tata kelola kolaboratif (collaborative governance) dalam mewujudkan pariwisata pesisir berkelanjutan di Kabupaten Belitung. Kawasan ini memiliki posisi strategis sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata dengan potensi alam, budaya, dan sosial-ekonomi yang tinggi, namun menghadapi tekanan ekologis serta tantangan tata kelola akibat intensitas investasi dan ketimpangan peran antaraktor. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada lima desa pesisir terpilih—Desa Batu Itam, Terong, Tanjung Binga, Keciput, dan Tanjung Tinggi—yang memiliki karakteristik dan potensi wisata berbeda. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik menggunakan perangkat lunak NVivo 12.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Belitung memiliki prospek kuat apabila didukung oleh kolaborasi lintas-aktor yang efektif antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. Masing-masing desa menampilkan keunikan potensi: Batu Itam dengan warisan maritim dan situs kapal karam Sriwijaya; Terong dengan ekowisata kreatif berbasis pertanian dan budaya; Tanjung Binga dengan ekonomi bahari dan produk olahan laut; Keciput dengan wisata konservasi penyu; serta Tanjung Tinggi sebagai ikon wisata nasional. Tingkat partisipasi masyarakat bervariasi dari pasif hingga citizen control, dipengaruhi oleh kapasitas sosial, kelembagaan, dan struktur kepemilikan lahan. Kolaborasi yang berbasis kepercayaan, transparansi, dan kesetaraan menjadi kunci keberhasilan implementasi CBT di kawasan pesisir.Penelitian ini menawarkan model collaborative community-based governance sebagai kerangka penguatan pariwisata pesisir berkelanjutan. Strategi utama meliputi:(1) peningkatan kapasitas SDM lokal; (2) penguatan kelembagaan komunitas; (3) pengembangan kolaborasi lintas-desa dan lintas-sektor; serta (4) penguatan narasi dan branding destinasi berbasis identitas lokal. Secara teoretis, penelitian ini memperluas konsep CBT dengan menegaskan pentingnya tata kelola kolaboratif sebagai determinan keberlanjutan destinasi. Secara praktis, hasil penelitian memberikan rekomendasi bagi pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta dalam membangun pariwisata pesisir yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing.
Copyrights © 2025