Pendahuluan: Penyembuhan luka insisi terdiri dari proses biologis kompleks yang melibatkan fase hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodelling. Fusidic acid digunakan luas sebagai terapi topikal karena aktivitas antibakterinya, namun penggunaan jangka panjang berpotensi menimbulkan resistensi. Anredera cordifolia (binahong) mengandung flavonoid, saponin, dan tanin yang dilaporkan memiliki efek antiinflamasi, antioksidan, serta merangsang pembentukan kolagen, sehingga berpotensi sebagai alternatif terapi. Metode: Penelitian ini merupakan true experimental design dengan post-test only control group pada 25 ekor tikus putih jantan strain Sprague-Dawley yang dibagi menjadi empat kelompok: P0 (fusidic acid), serta P1, P2, dan P3 yang diberi ekstrak etanol daun binahong topikal konsentrasi 10%, 20%, dan 40%. Evaluasi penyembuhan luka dilakukan pada hari ke-3, 7, dan 14 melalui pengukuran penyusutan luka. Data dianalisis menggunakan One-Way ANOVA dan uji post hoc LSD. Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan (p > 0,05) antara P1, P2, dan P3 dengan P0. Pembahasan: Efektivitas tertinggi pada konsentrasi 40% diduga terkait aktivitas antiinflamasi dan stimulasi proliferasi fibroblas dari kandungan metabolit sekundernya, sehingga mempercepat pembentukan jaringan granulasi. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak binahong memiliki potensi sebagai alternatif terapi topikal yang sebanding dengan fusidic acid. Simpulan: Ekstrak etanol daun binahong memiliki efektivitas yang sebanding dan pada konsentrasi lebih tinggi berpotensi melebihi fusidic acid dalam mempercepat penyembuhan luka insisi kulit pada tikus putih. Binahong dapat dipertimbangkan sebagai terapi alternatif berbasis herbal dalam manajemen luka.
Copyrights © 2025